WACANA =WACANEN

Revitalisasi Peran Pemuda Guna Terwujudnya Jiwa Nasionalisme dan Kesetiakawanan
29 03 2009
Oleh: AHMAD SOBIRIN
(Sekretaris Umum Karang Taruna Bhakti Karya Persada)
Kampung Candra Kencana
Indonesia adalah sebuah negara yang mempunyai keindahan alam yang memukau mata, subur nan indah. Negara yang mempunyai ribuan pulau yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Selain sumber daya alam yang melimpah tersebut, Indonesia dihuni 250 juta lebih rakyat yang berbeda-beda suku dan budaya yang hidup bersama. Semua di atas merupakan satu kesatuan yang membentuk Indonesia sebagai salah satu negara yang berdaulat di dunia yang berada di tepi selatan Asia tenggara ini.Sejak lahirnya bangsa ini pada tanggal 17 agustus 1945, Indonesia telah banyak mengalami perubahan yang cukup berarti. Baik ditingkat lokal maupun global. Namun di sisi lain jelas negeri ini tidak dapat melupakan efek negatif dari perubahan tersebut. Sebut saja seperti terjadinya konflik-konflik yang terjadi baik konflik yang bersifat SARA maupun konflik yang dilatarbelakangi oleh kepentingan politik, maupun ekonomi. Mozaik perjalanan kehidupan masyarakat Indonesia dimana perpecahan, dan bahkan peperangan yang menumpahkan darah tersebut menjadi goresan luka yang sulit untuk mengering di hati masyarakat. Hal inilah yang merupakan satu kesatuan unsur yang tak terpisahkan dari sejarah perjalanan bangsa ini yang tentunya dapat dijadikan sebagai suatu ujian bagi bangsa Indonesia untuk menuju sebuah negara yang lebih dewasa. Sejarah telah mencatat bahwasanya bangsa Indonesia sejak dikumandangkannya kata proklamasi, telah mengalami beberapa pergantian pemerintahan. Dimulai dari lahirnya duo proklamator bangsa yaitu Soekarno dan Mohammad Hatta sampai pada saat ini yaitu pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan Muhammad Yusuf Kalla. Pergantian pemerintahan dari tiap orde itu di tandai dengan berbagai macam konflik. Tragedi berdarah 1965 telah memakan banyak korban, yang mengakibatkan lengsernya rezim orde lama, peristiwa 1998 yang disebut sebagai peristiwa reformasi yang berhasil menumbangkan pemerintahan Soeharto yang bercokol di puncak pemerintahan selama 30 tahun. Belum lagi konflik–konflik yang terjadi di daerah-daerah seperti konflik Aceh, Maluku dan bahkan sampai konflik antara tentara marinir dan rakyat akhir-akhir ini yang terjadi di Pasuruan Jawa Timur yang memakan korban dari warga.Sebagai suatu catatan penting dari peristiwa reformasi yang dipercaya menjadi pintu gerbang Indonesia menjadi negara yang lebih maju adalah berhasilnya menumbangkan sistem pemerintahan orde baru yang sentralistik. Namun di sisi lain reformasi telah melahirkan permasalahan baru yang tidak kalah rumitnya dibanding masa-masa sebelumnya. Pemerintahan pasca reformasi yang diharapkan dapat membawa Indonesia menjadi lebih baik, belum dapat memperlihat tanda-tanda keberhasilannya. Yang mudah dilihat adalah kebobrokan ekonomi yang mencolok dan tak kunjung membaik, perebutan kepentingan elit politik yang memicu konflik antar masyarakat, terjadinya degradasi penghargaan terhadap budaya sendiri yang dikenal ramah di mata dunia. Budaya timur sudah jarang terlihat di kehidupan masyarakat. Negara yang menjunjung tinggi dan menghargai perbedaan suku, ras, dan agama malah memperlihatkan konflik SARA yang memilukan hati. Hukum sudah seperti pasar yang memperlihatkan transaksi secara terbuka, rasa aman sudah sangat mahal di negeri ini. Tidak ketinggalan pula pada aspek pendidikan di Indonesia yang masih mencari sistem ideal, belum lagi permasalahan kesehatan masyarakat yang tidak terkonsep dan tertangani dengan baik oleh pemerintah. Selain itu terjadi berkali-kali bencana alam yang sangat dasyat yang menghantam negeri ini sehingga makin memperburuk kondisi bangsa Indonesia. Belum lagi adanya situasi global yang sudah menghilangkan batas-batas geografis yang menuntut masyarakat untuk selalu bersaing dengan negara lain di dunia. Hal tersebut di atas jelas telah banyak menghabiskan energi kita semua. Namun bagaimanapun, itu adalah konsekwensi yang harus diterima dengan menyadari akan kesalahan seluruh masyarakat. Semua harus ingat, bangsa Indonesia ini telah memiliki cita-cita bersama untuk meghantarkan negeri ini menjadi negeri yang makmur sejahtera, gemah ripah loh jinawi, dan mampu bersaing di era global sekarang ini. Maka seyogyanya masyarakat harus merumuskan kembali sistem global kehidupan bangsa ini secara bersama-sama dengan arif dan bijaksana. Serta dengan segera merumuskan gerakan kalau tidak ingin hancur dan tertindas di kehidupan yang akan datang. Bergerak sekarang atau tidak sama sekali.. Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia Raya.... Penggalan syair lagu Indonesia raya di atas haruslah menjadi pemicu bagi negeri ini untuk sadar diri. Sadar bahwasanya apapun yang terjadi negeri ini rakyat harus bangun dan bangkit. Maka dari itu Indonesia harus menatap ke depan, menganalisis situasi dan bahu-membahu siapapun ia. Dari ratusan juta rakyat, sebenarnya Indonesia menyimpan SDM yang potensial yang dibutuhkan untuk dijadikan modal untuk berjuang. Personal-personal yang duduk di pemerintahan, di bidang bisnis, sebagai mahasiswa di dalam ataupun di luar negeri, masyarakat yang berpartisipasi aktif di organisasi-organisasi baik yang bergerak di bidang pedidikan, sosial, politik, dan ataupun kepemudaan. Namun sayangnya inisiatif untuk memanfaatkan seluruh potensi tersebut belumlah muncul. Gerakan yang muncul hanyalah gerakan yang bersifat lokal, dan sporadis. Pemimpin-pemimpin baru belumlah ada. Kalaupun ada sangat minim untuk didukung secara bersama-sama oleh rakyat. Hal ini jelas akan menjadi masalah. Sebab bangsa ini mempunyai budaya mengkultuskan seorang pemimpin. Apalagi pemerintah yang sebenarnya mempunyai kompetensi malah lebih mementingkan gerakan oportunisnya, repot dengan kepentingan perut dan perebutan kekuasaan, sehingga kewajibannya sebagai pelopor dan pemimpin bangsa tereduksi. Dan akhirnya rakyat benar-benar kehilangan figur seorang pemimpin yang akan membawa mereka untuk bergerak bersama demi cita-cita bangsa ini. Memang benar, dalam rangka memajukan bangsa tidak cukup mengandalkan pemerintah untuk bekerja sendiri. Kerjasama antara pemerintah dan rakyat merupakan interdependensi sistem yang tak bisa dipisahkan. Namun secara ideal pemerintahlah yang umumnya terdiri dari personal-personal intelektual dan professional, yang paling bertanggungjawab menentukan akan diarahkan kemana negeri ini. Sebab filosofi pemerintah dalam bangsa yang menganut sistem pemerintahan demokrasi adalah berasal dari rakyat. Maka seyogyanya mereka dapat menjadikan inspirator, motor penggerak yang efektif guna mendidik, membimbing, mengarahkan rakyat secara terus menerus. Membangun dalam negeri dan bersaing di kancah dunia.Jika memang pemerintah tidak sanggup lagi memfungsikan diri secara sewajarnya, maka tidak ada cara lain siapapun dia, baik dari perseorangan, kelompok, ataupun organisasi yang notabene mempunyai basic intelektual tinggi, harus bersedia membangun kesadaran akan kepemilikan bangsa (nasionalisme) dan menumbuhkan kesetiakawanan sosial diantara elemen tersebut di atas. Sehingga nantinya perjuangan serempak yang didasari semangat nasionalisme yang tinggi dan jiwa membangun yang besar untuk kemakmuran bersama menjadi sebuah kenyataan. Bergerak bersama untuk cita-cita bersama yaitu negara yang adil dan makmur dan diridhai oleh Tuhan Yang Maha Esa. Walaupun sekali lagi, proses tersebut membutuhkan waktu yang panjang, energi dan konsistensi yang tinggi dari masing-masing pihak.Pertanyaan selanjutnya adalah siapa dari SDM yang mempunyai energi besar, energic, mumpuni dan mempunyai daya gedor luar biasa dan telah terbukti dalam sejarah akan sepak terjangnya dalam membangun bangsa ini? Kalau dilihat dari sederet sejarah panjang bangsa ini rasanya tidak salah apabila kita menyatakan bahwa para pemudalah yang mempunyai andil besar dalam rangka membangun bangsa ini menuju bangsa yang lebih maju. Tengok saja sejarah yang dimulai digerakkan Budi utomo tahun 1908 yang merupakan organisasi kebangsaaan pertama, walaupun sebenarnya didalamnya hanya terdiri dari golongan masyarakat tertentu tapi perjuangannya dalam menyerukan kemerdekan sudah merupakan usaha untuk mendorong ke arah kemajuan bangsa ini. Peristiwa Rengas dengklok merupakan peran pemuda yang sangat berarti bagi bangsa Indonesia yang melandasi lahirnya teks Proklamasi.Tragedi 1965 yang berhasil melengserkan orde lama juga tak lepas dari kekuatan dan peran pemuda pada waktu itu dengan ditandainya banyak demonstrasi yang menuntut segera dilakukan perbaikan–perbaikan negeri. Lahirnya peristiwa 1998 yang pada waktu itu dipelopori oleh mahasiswa sebagai elemen dari pemuda yang akhirnya sekali lagi membuktikan kekuatannya yaitu berhasil melengserkan pemerintahan orde baru. Para pemuda dan mahasiswa menuntut adanya reformasi di berbagai bidang guna mewujudkan kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera dan segera keluar dari krisis ekonomi yang menghantam negeri ini.Namun dalam era sekarang ini, metode gerakan pemuda layak untuk dianalisis kembali. Kekuatan besar golongan muda di Indonesia saat itu lebih banyak digunakan untuk menggerakkan rakyat secara langsung, gerakan represif untuk menuntut pemerintah. Gerakan semacam itu memang dirasa efektif dalam memberikan tekanan terhadap pemerintah dan bisa menghasilkan perubahan secara radikal. Tetapi perubahan yang terjadi hanya bersifat instant artinya perubahan yang terjadi hanyalah hal-hal kecil yang sifatnya serba terbatas tak ada suatu perubahan yang menyeluruh dengan arah yang sama guna memperbaiki kehidupan yang lebih baik. Yang terjadi sekarang ini hanyalah perubahan parsial dan juga tidak adanya rancangan perubahan yang lebih global sehingga lebih banyak menimbulkan kerancuan dan perpecahan.Maka untuk menuju Indonesia yang lebih baik di dunia global ini, para elemen pemuda di seluruh antero Indonesia harus bersatu dan menemukan metode gerakan yang tepat yang sesuai dengan kondisi bangsa sekarang. Gerakan tersebut haruslah mengoptimalkan pola gerakan yang menyentuh langsung di wilayah yang lebih luas. Mencakup di seluruh daerah, sampai di pedesaan. Bersifat mendidik, mengorganisir dan mengkader secara terus menerus. Gerakan tersebut tidak terbatas pada status sosial, politik ataupun pendidikan dari anggotanya. Serta konsentrasi gerakan dikonsentrasikan pada aspek kesejahteraan sosial. Bukan terjebak pada aspek politik praktis, ataupun aspek keagamaan dari agama tertentu saja.Pertanyaan selanjutnya adalah organisasi apakah itu? Salah satu golongan muda berpotensi besar yang dimiliki bangsa Indonesia saat ini adalah para pemuda-pemudi yang umumnya berada di pedesaan, walaupun sekarang ini golongan tersebut masih dipandang sebelah mata oleh pemerintah maupun masyarakat umumnya. Mengapa golongan ini mempunyai potensi besar dalam membangun bangsa dan memperbaiki kehidupan bangsa ke depan? ada 4 hal pokok yang menjadi alasan:
Kemauan dan semangat yang tinggi untuk memperbaiki kondisi.Dari latar belakang wilayah pedesaan, mereka mempunyai keinginan untuk mempebaiki nasibnya. Hal ini ditandai dengan banyaknya arus urbanisasi yang mayoritas anak-anak muda untuk mencari nafkah di kota besar.
Memiliki kepekaan sosial dalam menyikapi kondisi sosial masyarakat terdekatnya.Pada umumnya masyarakat yang hidup di pedesaan masih memegang kuat rasa persaudaraan dan gotong-royong antar warga. Hal ini dapat dijadikan modal dalam berjuang bersama-sama.
Belum terkontaminasi dari budaya maupun kepentingann yang bersifat destruktif.Jika dibandingkan dengan gaya hidup pemuda yang bermukim di kota, pemuda desa masih berada dalam kategori original dan jauh dari gaya hidup yang ke barat-baratan yang destruktif.
Langsung menyentuh pada aspek masyarakat bawah.Karena posisinya berada di tengah-tengah masyarakat, mereka dapat lebih mudah berbaur dan menjalankan kewajibannya sebagai agen perubah, penjaga kesetiakawanan antar warga.Setidaknya dari keempat faktor di atas, KARANG TARUNA yang notabene organisasi pemuda yang berada di tingkat desa, dan tersebar di seluruh Indonesia mempunyai potensi besar untuk memerankan kewajibannya dan memenuhi kebutuhan masyarakat sekarang ini.Maka dari itu mulai saat inilah para pemuda berkonsolidasi membentuk format gerakan yang lebih modern dan futuristik dalam wadah organisasi Karang Taruna. Organisasi yang dapat menjadi pencerah keterpurukan bangsa dalam mendobrak kejumudan pembangunan dan nasionalisme bangsa yang sedang terpuruk ini.Karang Taruna Jawa Tengah yang terdiri dari personal-personal tangguh dalam mengemban tanggung jawab sebagai pemikul negeri ini kedepan, mempunyai konsep gerakan yang berbeda. Orientasi gerakan tidak hanya berkutat pada wilayah lokal maupun nasional. Namun Karang Taruna Jawa Tengah mempunyai program gebrakan yang bertaraf go internasional. Budaya berfikir linier dan sifat ketergantungan kepada pemerintah sudah tidak menjadi pola pikir Karang Taruna Jawa Tengah. Gerakan global tanpa memandang batas-batas geografis. Sebut saja adanya kerjasama antara Karang Taruna Jawa Tengah dengan negara Jepang dalam mendidik dan mengarahkan para pemuda pada aspek kewirausahaan dan kemandirian. Walaupun masih terjadi kesalahan disana-sini, namun setidaknya dari paparan saya diatas dapat menjadi bahan renungan bagi kita bersama. Menjadikan kita berani menengok ke belakang, dan berevaluasi secara internal dan menyeluruh. Sekaligus hal itu menjadi stimulasi bagi kita, para kaum muda Jawa Tengah untuk menatap zaman ke arah yang lebih baik, mendekatkan kepada titik paripurna kejayaan pemuda, dan masyarakat Jawa Tengah serta seluruh bangsa Indonesia yang kita cintai bersama ini. Tidak lupa kami sebagai generasi muda, yang didalam taraf berfikir dan bergerak tentunya masih sangat membutuhkan suplay ide, nasihat ataupun bimbingan dari semua pihak.
Share on Google Plus

About Lampung Channel Televisi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.